Pages

Showing posts with label Heart Tour. Show all posts
Showing posts with label Heart Tour. Show all posts

2013/01/06

Cinta Sejati Dalam Islam


Makna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Sebenarnya? apa itu ‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos ‘Cinta Sejati‘, dan dibuai oleh impian ‘Cinta Suci’. Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta “Valentine’s Day”.
Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menelusuri sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang selama ini menghiasi hati anda?
Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.
Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber: www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).
Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda? Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda? Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari.
Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya? Ataukah anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagianya mencintai pasangan anda?
Saudaraku, bila anda mencintai pasangan anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.
Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.
Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.
Saudaraku! bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?
Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:
Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.
Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.
Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.
Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”
Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:
يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.
“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)
Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?(1)
Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik: Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.
Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?
Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ. رواه الترمذي وغيره
“Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:
كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ
Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).
Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah arab dinyatakan:
حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ
Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.
Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102
“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)
Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?
Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.
Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?
Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه
“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dan pada hadits lain beliau bersabda:
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.
“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.
الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67
“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)
Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه
“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)
Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.
Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.
Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku…
Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.
***
Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Dipublikasi ulang dari www.pengusahamuslim.com
Footnote:
1) Saudaraku, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, saya harap anda tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga. Adapun kesalahan dan kekhilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf. Amal kebajikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. Jangan sampai anda merasa bahwa diri anda lebih baik dari seseorang apalagi sampai menyebabkan anda mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama’ terdahulu):
مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ
“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama.”

Sumber : http://muslimah.or.id 
readmore »»  

30 Facts About Islam

 

1) "Islam" means "Peace through the submission to God".
2) "Muslim" means "anyone or anything that submits itself to the will of God".
3) Islam is not a cult. Its followers number over 1.5 billion worldwide. Along with Judaism and Christianity, it is considered to be one of the three Abrahamic traditions.
4) There are five pillars of practice in Islam. These practices must be undertaken with the best of effort in order to be considered a true Muslim: A) Shahadah - declaration of faith in the oneness of God and that Muhammad is the last prophet of God. B) Formal prayer five times a day. C) Fasting during the daylight hours in the month of Ramadan. D) Poor-due "tax" - 2.5% of one's savings given to the needy at the end of each year. E) Pilgrimage to Mecca at least once, if physically and financially able.
5) There are six articles of faith in Islam. These are the basic beliefs that one must have in order to be considered a true Muslim. They are belief in: A) the One God. B) all the prophets of God. C) the original scriptures revealed to Prophets Moses, David, Jesus, and Muhammad. D) the angels. E) the Day of Judgment and the Hereafter. F) the divine decree (or destiny).
6) Islam is a complete way of life that governs all facets of life: moral, spiritual, social, political, economical, intellectual, etc.
7) Islam is one of the fastest growing religions in the world. To become Muslim, a person of any race or culture must say a simple statement, the shahadah, that bears witness to the belief in the One God and that Prophet Muhammad was the last prophet of God.
8) "Allah" is an Arabic word that means "God". Muslims also believe that "Allah" is the personal name of God.
9) Allah is not the God of Muslims only. He is the God of all people and all creation. Just because people refer to God using different terms does not mean that they are different gods. Spanish people refer to God as "Dios" and French people refer to God as "Dieu", yet they are all the same God. Interestingly, most Arab Jews and Arab Christians refer to God as "Allah". And the word Allah in Arabic appears on the walls of many Arab churches.
10) The Islamic concept of God is that He is loving, merciful, and compassionate. But Islam also teaches that He is just and swift in punishment. Nevertheless, Allah once said to Prophet Muhammad, "My mercy prevails over my wrath." Islam teaches a balance between fear and hope, protecting one from both complacency and despair.
11) Muslims believe that God has revealed 99 of His names (or attributes) in the Holy Qur'an. It is through these names that one can come to know the Creator. A few of these names are: the All-Merciful, the All-Knower, the Protector, the Provider, the Near, the First, the Last, the Hidden, and the Source of Peace.
12) Muslims believe in and acknowledge all the prophets of old, from Adam to Jesus. Muslims believe that they brought the message of peace and submission (islam) to different peoples at different times. Muslims also believe that these prophets were "muslims" because they submitted their wills to God.
13) Muslims neither worship Muhammad nor pray through him. Muslims solely worship the unseen and Omniscient Creator, Allah.
14) Muslims accept the original unaltered Torah (the Gospel of Moses) and the original Bible (the Gospel of Jesus) since they were revealed by God. However, none of those original scriptures are in existence today, in their entirety. Therefore, Muslims follow the subsequent, final, and preserved revelation of God, the Holy Qur'an.
15) The Holy Qur'an was not authored by Muhammad. It was authored by God, revealed to Muhammad, and written into physical form by his companions.
16) The Holy Qur'an has no flaws or contradictions. The original Arabic scriptures have never been changed or tampered with.
17) Actual seventh century Qur'ans, complete and intact, are on display in museums in Turkey and many other places around the world.
18) If all Qur'ans in the world today were burned and destroyed, the original Arabic would still remain. This is because millions of Muslims, called Hafiz (or "preservers") have memorized the text letter for letter from beginning to end, every word and syllable. Also, chapters from the Qur'an are precisely recited from memory by every Muslim in each of the five daily prayers.
19) Muslims do not believe in the concept of "vicarious atonement" but rather believe in the law of personal responsibility. Islam teaches that each person is responsible for his or her own actions. On the Day of Judgment Muslims believe that every person will be resurrected and will have to answer to God for their every word, thought, and deed. Consequently, a practicing Muslim is always striving to be righteous.
20) Islam was not spread by the sword. It was spread by the word (Islamic teachings) and the example of its followers. Islam teaches that there is no compulsion in religion (the Holy Qur'an 2:256 and 10:99).
21) Terrorism, unjustified violence and the killing of innocent people are absolutely forbidden in Islam. Islam is a way of life that is meant to bring peace to a society, whether its people are Muslim or not. The extreme actions of those who claim to be Muslim may be, among other things, a result of their ignorance or uncontrolled anger. Tyrant rulers and those who commit acts of terrorism in the name of Islam are simply not following Islam. These people are individuals with their own views and political agendas. Fanatical Muslims are no more representative of the true Islamic teachings than Timothy McVeigh or David Koresh are of Christianity. Extremism and fanaticism is a problem that is common to all religious groups. Anyone who thinks that all Muslims are terrorists should remember that the famous boxer Muhammad Ali, perhaps the most celebrated person of our era, is a practicing Muslim.
22) The word "jihad" does not mean "holy war". Instead, it means the inner struggle that one endures in trying to submit their will to the will of God. Some Muslims may say they are going for "jihad" when fighting in a war to defend themselves or their fellow Muslims, but they only say this because they are conceding that it will be a tremendous struggle. But there are many other forms of jihad which are more relevant to the everyday life of a Muslim such as the struggles against laziness, arrogance, stinginess, or the struggle against a tyrant ruler or against the temptation of Satan, or against one's own ego, etc.
23) Women are not oppressed in Islam. Any Muslim man that oppresses a woman is not following Islam. Among the many teachings of Prophet Muhammad that protected the rights and dignity of women is his saying, "...the best among you are those who treat their wives well." (Tirmidhi)
24) Islam grants women numerous rights in the home and in society. Among them are the right to earn money, to financial support, to an education, to an inheritance, to being treated kindly, to vote, to a dowry, to keep their maiden name, to worship in a mosque, etc., etc.
25) Muslim women wear the head-covering (hijab) in fulfillment of God's decree to dress modestly. From a practical standpoint, it serves to identify one as attempting to follow God in daily life and, therefore, protects women from unwanted advances from men. This type of modest dress has been worn by righteous women throughout history. Prominent examples are traditional Catholic Nuns, Mother Teresa and the Virgin Mary, mother of Jesus.
26) Arranged marriages are allowed in Islam but are not required. Whereas "forced" marriages, usually stemming from cultural practice, are forbidden. Divorce is permissible, however, reconciliation is what is most encouraged. But if there are irreconcilable differences then Islam permits a fair and just divorce.
27) Islam and the "Nation of Islam" are two different religions. Islam is a religion for all races and enjoins the worship of the one unseen God who, orthodox Muslims believe, never took human form. The "Nation", on the other hand, is a movement geared towards non-whites and teaches that God appeared in the form of Fard Muhammad in 1930 and that Elijah Muhammad (a man who died in 1975) was a prophet of God. These beliefs clearly contradict the basic Islamic theology outlined in the Qur'an. The followers of "the Nation" adhere to some Islamic principles that are mixed with many other teachings that are alien to Islam. To better understand the difference between the two, read about Malcolm X, his pilgrimage to Mecca and his subsequent comments to the media. Islam teaches equality amongst all the races (Holy Qur'an 49:13).
28) All Muslims are not Arab. Islam is a universal religion and way of life which includes followers from all races of people. There are Muslims in and from virtually every country in the world. Arabs only constitute about 20% of Muslims worldwide. Indonesia has the largest concentration of Muslims with over 120 million.
29) In the five daily prayers, Muslims face the Kaaba in Mecca, Arabia. It is a cube-shaped stone structure that was originally built by Prophet Adam and later rebuilt by Prophet Abraham. Muslims believe that the Kaaba was the first house of worship on Earth dedicated to the worship of one god. Muslims do not worship the Kaaba. It serves as a central focal point for Muslims around the world, unifying them in worship and symbolizing their common belief, spiritual focus and direction. Interestingly, the inside of the Kaaba is empty.
30) The hajj is a simultaneous pilgrimage to the Kaaba made by millions of Muslims each year. It is performed to commemorate the struggles of Abraham, Ishmael and Hagar in submitting their wills to God.

source : http://www.islamondemand.com 
readmore »»  

2012/12/31

Kisah Cinta dan Kebesaran Hati Salman Al Farisi

 
Salman al Farisi adalah salah seorang sahabat Nabi saw yang berasal dari Persia. Salman sengaja meninggalkan kampung halamannya untuk mencari cahaya kebenaran. Kegigihannya berbuah hidayah Allah dan pertemuan dengan Nabi Muhammad saw di kota Madinah. Beliau terkenal dengan kecerdikannya dalam mengusulkan penggalian parit di sekeliling kota Madinah ketika kaum kafir Quraisy Mekah bersama pasukan sekutunya datang menyerbu dalam perang Khandaq.
Berikut ini adalah sebuah kisah yang sangat menyentuh hati dari seorang Salman Al Farisi: tentang pemahamannya atas hakikat cinta kepada perempuan dan kebesaran hati dalam persahabatan.
Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai pacar. Tetapi sebagai sebuah pilihan untuk menambatkan cinta dan membangun rumah tangga dalam ikatan suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah, pelamaran.
Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.
”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”
Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah  dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.
Namun mari kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini:
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!
Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi. Ia begitu faham bahwa cinta, betapapun besarnya, kepada seorang wanita tidaklah serta merta memberinya hak untuk memiliki. Sebelum lamaran diterima, sebelum ijab qabul diikrarkan, tidaklah cinta menghalalkan hubungan dua insan. Ia juga sangat faham akan arti persahabatan sejati. Apalagi Abu Darda’ telah dipersaudarakan oleh Rasulullaah saw dengannya. Bukanlah seorang saudara jika ia tidak turut bergembira atas kebahagiaan saudaranya. Bukanlah saudara jika ia merasa dengki atas kebahagiaan dan nikmat atas saudaranya.
“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” [HR Bukhari]
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah Salman ini.

Sumber : http://blog.al-habib.info
readmore »»  

Hiduplah Dengan Indah


Dunia mampu penuhi hajat semua orang namun tak cukup bagi satu orang yang serakah, orang serakah hidup untuk makan, sedang orang normal makan untuk hidup. Saat kita dalam keadaan susah, kita merasa tersusah didunia, namun saat mendapatkan kesenangan kita masih saja ingin seperti yang lain. Menjadi dermawan tak perlu menunggu kaya sebab belum tentu akan menjadi kaya. sedang untuk meminta  ... tunggulah saat benar-benar perlu .Sesusah apapun kita pasti ada yang jauh lebih susah. Dan sekaya apapun kita pasti masih belum merasa puas. Maka, rasakanlah cukup apa yang ada daripada apa yang tiada.. Dan tetaplah meraih apa yang dicita sambil bersyukur atas apa yang ada
readmore »»  

2012/12/23

Gerakan Posting Pembelaan Ajaran Islam,Kita Harus Bicara Kebenaran Islam


i love islam
Assalamualaikum
Mari galakkan Posting Membela Islam
KIta lupakan saja Web yang mengolok olok
Kita tinggalkan saja (jangan dikunjungi)
Kita cukup menyebarkan Pesan Positif
untuk mengalahkan Fitnah kejam Sang pembuat Nista
Mari Kita Perbanyak Dakwah Islamiyah
Mari sebarkan seruan Berhijrah Amar makruf Nahi Munkar
Mari kita hancurkan Tembok Fitnah Yang keci itu
dengan Menyampaikan ajaran yang Rahmatan lil alamin
Mari Posting sebanyak banyak nya tentang agama Islam sesungguhnya
mari kita jawab pelecehan kaum kafir dengan fakta dan kenyataan
Mari kita kembalikan Islam sebagai fitrah Umat Manusia
readmore »»